Allah Mengeluarkan Manusia Menuju Cahaya

Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An-Nur [24]: 35)

Dan Pohon-pohon pun Bertasbih

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. (Qaaf [50]: 9)

Daratan dan Lautan adalah Bukti Kekuasaan Allah

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. ( Al-Israa' [17]: 70)

Kalimat Allah Tak Terbatas

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Luqman [31]: 27)

Tidakkah Kalian Memperhatikan Bagaimana Awan Digerakkan?

Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Al-Baqarah [2]: 57)

Wednesday, August 29, 2012

NUMANI, Meretas Ukhuwah dalam Bidang Ekonomi


Mungkin agak telat, tetapi semoga informasi ini bermanfaat: saya tahu langkah yang ditempuh PCM Minggir-Seyegan dan MWC NU Minggir-Seyegan ini kurang lazim dan banyak mendapat tanggapan sinis, meskipun ada juga yang memberikan apreasi positif

Numani,semoga terus membawa kebaikan

Di jejaring sosial khususnya Facebook, perbincangan tentang numani ternyata cukup hangat. Dengan memasang foto-foto berlabel numani, komentar tentang numani-pun bermunculan. Reaksinya macam-macam, ada yang memberikan apresiasi baik, mencibir, nada melecehkan, prasangka-prasangka, bahkan salah persepsi. Tetapi itu semua, itu adalah dinamika wajar, berangkat dari pemikiran banyak orang dengan berbagai latar belakang. Apalagi bila didasari mindset adanya persaingan antara Muhammadiyah dengan NU. Semoga tulisan ini bisa memberikan informasi yang positif.

Numani adalah badan usaha bersama milik Muhammadiyah dan NU Minggir-Seyegan, yang memang diharapkan mampu memberdayakan umat. Sementara melayani catering untuk berbagai kegiatan, diharapkan umat muslim bisa memilih numani sehingga sebagian keuntungan juga kembali kepada umat. Selain itu numani juga berencana membuka rumah makan di Pasar Srikaton Seyegan, Sleman, DIY.

Modal usaha didapatkan dari 'urunan' pengurus dengan harga 500 ribu per 'saham'. saat ini pengelola utamanya adalah Pak Supri (belakang pasar balangan Sendangrejo Minggir, Sleman, DIY) beliau juga pemilik toko cat grup DORA.

Alhamdulillah sampai saat ini numani berjalan dengan baik, dan mendapat sambutan positif dari kaum muslimin di Minggir-Seyegan (bahkan dari DPRD Sleman), kami mohon doa dan dukungannya semoga langkah kecil ini bisa memberikan kontribusi riil kepada umat islam tanpa membedakan Muhammadiyah atau NU. (Eko Triyanto, sekretaris Pemuda Muhammadiyah Cabang Kec. Minggir)

Sunday, August 26, 2012

Alunan Tilawah yang Menghipnotis


[dinamikadakwah] Bingung! Itulah yang dirasakan sebagian panitia Reuni Syawal dan Tasyakur AMM Minggir, Kamis (23/8/2012). Dalam rencana, acara akan dimulai seawal mungkin, maka dalam undangan dituliskan acara diawali dengan Shalat Isya’ berjamaah di Mushalla Prayan. Sayangnya yang hadir mengikuti shalat isya’ ternyata tak genap 10 orang. Selepas itu undangan hadir secara bergelombang, hingga saat acara hampir berakhir, karena adanya keperluan lain.

Roni sedang membacakan kalam Ilahi

Tetapi yang membuat panitia ketar-ketir adalah menunggu sosok yang sangat dinantikan agar acara bisa segera dibuka. Tentu bukan Dr. Khoirudin Bashori yang akan mengisi acara, karena beliau sudah datang beberapa saat sebelum acara dimulai. Sosok yang dimaksud adalah Roni Okta yang didaulat membacakan Al Quran. Setelah menunggu beberapa lama dan dengan saling kontak dengan Ashadi Harmanto yang membersamai Roni, akhirnya acara segera dibuka, dan Roni yang baru saja datang langsung tampil ke depan.

Dengan persiapan yang terbatas, bahkan dengan sedikit tergesa mencari mushaf Al Quran, penantian itu segera terbayar lunas dengan alunan merdu kalam-kalam ilahi. Segenap undangan seakan terhipnotis oleh tilawah yang disuarakan oleh Roni. Seusai acara tilawah, dalam sambutannyan Ketua PCM, Bapak Nurhadi, S. Ag, secara khusus memberi apresiasi kepada salah satu kader Pemuda Muhammadiyah itu.
Nama lengkapnya Roni Okta Kristanto, lahir 29 Oktober 1993. Beralamatkan di Ngijon Sendangarum Minggir. Lulusan dari SMP Muhammadiyah 2 (Parakan Wetan) Minggir, dan SMK N 1 Sedayu (STM Argomulyo) itu kini tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Pendidikan Agama Islam. Salam hangat dan terima kasih untuk Roni! <eko>

Saturday, August 25, 2012

Dr. Khoirudin Bashori: Jangan Sepelekan Kader ‘Mencla-mencle’


[dinamikadakwah] Dr. Khoirudin Bashori mengingatkan agar tidak memandang remeh kader yang dianggap tidak prospek atau dalam bahasa lain ‘mencla-mencle’ alias tidak konsisten. Sebab di lapangan banyak terbukti kader yang awalnya dianggap di bawah garis keumuman justru mampu terus bertahan di dalam gerakan ketimbang mereka yang awalnya terlihat sebagai ‘aktivis’. Beliau kemudian memberikan beberapa contoh, kawan sewaktu di Muallimin Muhammadiyah maupun dalam persyarikatan yang dulunya dianggap biasa saja atau bahkan kader yang ‘gagal’ berubah menjadi sosok yang mengejutkan.
Dr. Khoirudin Bashori dalam acara reuni AMM Kecamatan Minggir

Sedangkan dalam sambutannya, Ketua PCM Minggir, Nurhadi, S. Ag. menegaskan pentingnya para kader untuk mengarahkan putera-puterinya untuk aktif dalam gerakan. Sebab orang luar akan lebih menyoroti kader-kader yang secara natural lahir dari keluarga Muhammadiyah. Ketika putera-puteri mereka justru jauh dari Muhammadiyah akan gampang dijadikan ‘hujjah’ bahwa anak kader pun sulit dikaderisasi.

Pandangan tersebut disampaikan Dr. Khoirudin Bashori dan Bapak Nurhadi, S. Ag. dalam rangkaian Reuni Syawal dan Tasyakur AMM Kecamatan Minggir yang diadakan Kamis, (23/8/2012) di Prayan, Sendangsari, Minggir. <eko>

Reuni AMM Berjalan Sukses


[dinamikadakwah] Gelaran bertajuk Reuni Syawal dan Tasyakur AMM Kecamatan Minggir yang diadakan Kamis (23/8/2012) di Rumah Bapak Ahmad Masrusi, Prayan, Sendangsari, Minggir, Sleman, berjalan sukses. Dari sekitar 130 undangan yang dibagikan hadir sekitar 60 undangan atau sekitar separuhnya. Tampak hadir dalam kesempatan itu AMM generasi awal hingga generasi teranyar.

Sebagian peserta yang hadir dalam acara

Acara yang dibuka langsung oleh Ketua PCM Minggir sekaligus ketua Panitia Reuni, Bapak Nurhadi, S. Ag. itu dimulai sekitar pukul 20.15 menit, atau molor dari waktu yang ditetapkan yakni pukul 19.00 WIB. Akibat terlambatnya acara, maka forum diskusi yang direncanakan digelar sebelum kajian tidak bisa terlaksana.

Dalam kajiannya Ust. Dr. Khoirudin Bashori yang didaulat menjadi pembicara menyampaikan pentingnya pengkaderan bagi AMM. Karena kader merupakan aset penting yang akan melangsungkan gerakan. Tanpa kader yang baik, kelangsungan gerakan bisa mandeg. Beliau juga mengingatkan bahwa semua kader penting, kader yang dianggap tidak kredibel bisa jadi satu saat justru tetap istiqomah ketimbang kader yang lainnya. Untuk itu dalam pengkaderan tidak boleh memandang sebelah mata kepada siapapun dengan potensinya.

Berbagai pesan dan kesan yang dituliskan dalam daftar hadir, sebagian menanyakan tindak lanjut dari pertemuan itu. Kita tunggu tindak lanjutnya. <eko>

Monday, August 20, 2012

TPA Al Amin Nyangkringan (Sendangrejo) dalam Catatan Seorang Mahasiswi


[dinamikadakwah] Sebagai mahasiswa yang niat kuliah, tentu aku mengikuti program wajib universitas yang satu ini, Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat 2011 (KKN-PPM 2011). Kali ini, aku dan teman-temanku Unit 125 mendapatkan kesempatan untuk mengabdi di Padukuhan 3 Balangan, Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, sebuah tempat yang nyaman dan terjangkau (cuma 30 menit dari rumah (Gamping)/kampus UGM).
TPA Nyangkringan Sendangrejo

Sudah hal umum bahwa tiap ada KKN, pasti ada program TPA (kalo mahasiswanya muslim lho). Apalagi KKN-nya waktu Ramadhan. Nah, di Balangan ini, ada dua masjid dan satu mushola, semuanya mau ngadain TPA Ramadhan. Alhasil, mahasiswa sub-unit Balangan yang terdiri dari 3 laki-laki dan 3 perempuan ini, kudu dibagi rata. Biar gak meri, penentuan lokasi dilakukan dengan pengocokan. Allah Swt menakdirkanku untuk bertemu dengan bocah-bocah yang di foto itu, aku mengabdi di Masjid Al Amin, RW 07 Balangan, atau yang wilayahnya lebih dikenal dengan nama Nyangkringan

Ternyata, ini merupakan TPA perdana di Masjid Al Amin. Sebelumnya di sana belum pernah diadakan TPA sama sekali… Biasanya anak-anak itu ikut TPA di masjid lain, atau memanggil guru ngaji ke rumah.

Diputuskan oleh takmir dan warga bahwa TPA Ramadhan akan diadakan tiap hari Senin dan Kamis. Loh, gak tiap hari toh? pikirku waktu pertama kali baca info ini dari mas Nasrul (partner ngisi TPA) via sms. Kayaknya biasanya TPA Ramadhan tu tiap hari deh. Hm, mungkin karena memang baru perdana dan menyesuaikan dengan kemampuan warga dalam menyiapkan takjil, jadi gak tiap hari. It meant we only had TPA five times with them. Senengnya: gak usah pusing mikirin kurikulum macem-macem yang banyak Sedihnya: lima kali TPA dapet apa coba, waktu yang kurang banget itu untuk men-deliver dan mempraktekkan ilmu-ilmu agama yang begitu banyak.

Di pertemuan pertama TPA, penyakit lamaku masih kambuh (telatan! maaf yaa adek-adek). Kesan pertama yang sara rasakan, alhamdulillaah, anteng2 nih! ga kayak bocah-bocah di RW sebelah yang subhanallah aktifnya. Anak putrinya udah lumayan gedhe-gedhe, siswi kelas 3 SD ke ataslah. Anak putranya masih kecil-kecil, siswa kelas 2 SD ke bawah.

Tapi ternyata anteng-anteng itu hanya kesan pertama. Beberapa menit selanjutnya, prencil-prencil laki-laki udah pada gerudukan ke sana ke mari, biasalaah main kejar-kejaran plus gulat-gulatan. Kayaknya emang di mana-mana gitu ya, anak laki-laki suka pada gulat, awalnya hepi-hepi trus beberapa menit terus nanti pasti ada yang nangis -,- Alhamdulillah, saya kebagian nge-handle anak-anak perempuan yang manis-manis dan cukup dewasa dalam bersikap. Udah pada lumayan pinter ngaji pula, udah pada lulus iqra’! Alhamdulillaah  Meskipun masih ada salah-salah tajwid dan makhroj di sana-sini, tapi insya Allah itu bisa diperbaiki seiring berjalannya waktu

Pertemuan selanjutnya dan selanjutnya, penyakit lamaku masih belum sembuh. Untungnya, ada dua peserta TPA yang udah SMP, Lisa dan Rista. Sebelum kami, mbak-mas KKN ini, datang, mereka udah nge-handle forum TPA-nya. Nge-buka forum, hafalan surat-surat pendek dan do’a-do’a, cerita kisah-kisah nabi, semua mereka lakuin secara mandiri.Wow, sungguh mengharukan. Aku jadi yakin kalau TPA ini insya Allah akan terus berjalan di tangan mereka meski Ramadhan telah usai, aamiin.

Karena kesempatan ngisi TPA yang emang enggak banyak, aku fokuskan goal TPA di dua hal aja: baca Al-Qur’an secara lebih lancar (mbenerin makhroj+tajwid) dan hafal nama+tugas dari 10 malaikat. Untuk anak laki-laki, tambah latihan adzan. Kenapa gak latihan sholat/wudhu aja? Soalnya cara sholat masing-masing anak bisa beda je, misalnya doa iftitah kan ada dua versi tuh, dan lain-lain.. Kalau latihan wudhu, aku lagi emoh basah  (dasar mbaknya ini!)

Nah, ternyata jiwa kompetisi mereka cukup tinggi, mereka minta diadain lomba baca Qur’an! Subhanallaah… Yah walopun hadiahnya enggak seberapa, cuma gantungan kunci n bros dari flanel, semoga mereka jadi tambah semangat mengaji, aamiin^^

Di hari terakhir ngisi TPA, kita foto-foto buat kenang-kenangan…Banyak yang minta walaupun KKN udah selesai, kakak-kakak ini tetep ngisi TPA, toh rumah kakak cuma di Gamping ini kan  Duh, maaf banget ya dek, kakak nggak bisa menjanjikan hal itu. Pesanku ke mereka: TPA nya tetep jalan terus lho yaa, meski mbak masnya udah gak ngisi lagi.. Nanti mbak Lisa sama mbak Rista yang ngisi TPA nya yaa

Nah, karena mereka juga udah liburan, mereka ngajakin kami ke kegiatan rutin mereka di hari libur pagi, jalan-jalan, aku ajak Ama salah satu temen sepondokan KKN.

Nah, di hari terakhir KKN, sebelum kepergian para mahasiswa kembali ke kehidupan kampus, mereka ternyata kasih kenang-kenangan buat aku, katanya gak boleh dibuka sebelum sampai rumah (yang di Gamping). Okelaah…
Ternyata aku baru bisa buka kado itu esok paginya… ada gelang-gelang buatan mereka sendiriii… aaaa, terharuuu :’D

Terima kasih banyak yaa adek-adekku sayaang. Makasih udah mengajarkanku tentang berbagai hal yang mungkin gak kalian sadari, seperti: semangat mengaji walaupun fasilitas terbatas, pengajarnya minim, keceriaan dan kepolosan, penerimaan satu sama lain, kepedulian terhadap teman, dan masih banyak lagi…

Kalian takkan terlupa deh.. Lisa yang semangat, Rista yang kadang malu-malu, Dilla yang manis, Ria yang suka sms-an, Zuyyin yang pinter, Upik yang cerdas, Vivin yang pendiem, Yasmin yang banyak penggemarnya, Nabila yang suka nyapu, ‘Ilmi yang jarang ketemu, Boy yang adiknya Zuyyin, Zaka yang suka adzan, Fikri yang usiil, Ryan suka ketawa ketiwi, Farhan yang tegap kayak polisi, Daffa yang hiperaktif,… ada yang belum kesebutkah? Semoga udah semua yaa  Semoga kalian jadi orang yang sukses dunia akhirat, aamiin
Tapi sedihnya...
Yaaaah, TPA-nya jangan berhenti doong sayaaaang! Walaupun kami gak disitu, tapi insya Allah kami tetap membersamai TPA kalian kok… Kan kami ada di hati kalian...
<repro.eko>

Diambil dari catatan blog: http://fayruzrahma.wordpress.com (seorang mahasiswi UGM yang pernah KKN di Balangan) dengan beberapa editan yang kami anggap perlu.

P2A Sendangagung Adakan Syawalan

[dinamikadakwah] Bertempat di Balai Desa Sendangagung, Pembinaan Pengamalam Agama (P2A) Islam Sendangagung mengadakan syawalan dan silaturahim pengurus serta tokoh-tokoh jamaah masjid-mushola se-Sendangagung. Acara dilaksanakan seusai shalat Idul Fitri dan dihadiri sekitar 200 orang. H. Nurhadi, S. Ag. dari Kulon Progo didaulat sebagai pembicara.

Suasana syawalan 1433 H P2A Sendangagung dengan tokoh agama

Tampak hadir dalam kegiatan itu antara lain, Kepala Desa Sendangagung, Drs. Hadjid Badawi, Ketua P2A Sendangagung, Drs. H. Sutrisno, Ketua BAZ Kecamatan Minggir, H. Nasirun, Ketua PRM Sendangagung, Ahmad Janadi, M. SI. dan para tokoh agama dari masing-masing dusun yang ada di Sendangagung.

Acara ini rutin digelar setiap tahun, dan mendapatkan sambutan antusias dari tokoh-tokoh agama. Dalam acara itu juga disampaikan beberapa pengumuman berkaitan dengan kegiatan dakwah. <eko>

Sunday, August 19, 2012

Menata Gerak Dakwah di Kecamatan Minggir

[dinamikadakwah] Sejarah dakwah di Kecamatan Minggir diwarnai dengan berbagai gejolak yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar. Pada tahun 1970-an sempat terjadi konversi agama secara besar-besaran seiring gencarnya program kristenisasi. Pada saat itu Minggir mengalami paceklik berkepanjangan sehingga sebagian besar penduduk yang mengandalkan hasil pertanian otomatis mengalami kekurangan pangan. Situasi semacam ini menjadi peluang bagi orang-orang non-muslim untuk menarik simpati dengan jalan membagikan uang, makanan dan pakaian.

Potensi jamaah yang begitu besar butuh dakwah yang tertata dan serius

Bantuan tersebut berasal dari Belanda yang didatangkan atas prakarsa Romo Tack. Langkah yang disusun secara rapi dan sistematis itu pun terus berlanjut. Orang-orang yang telah murtad kemudian dikumpulkan sebulan sekali untuk melakukan misa bersama. Bantuan semacam itu secara rutin diberikan dan bagi mereka yang berhasil memurtadkan orang Islam akan diberi tambahan.

Komposisi jumlah umat beragama mengalami perubahan mencolok. Sebelum adanya permurtadan diperkirakan jumlah umat Islam mencapai 95%, jumlah itu kemudian merosot menjadi sekitar 67%. Hal tersebut menimbulkan kesadaran sebagian umat Islam, termasuk Muhammadiyah untuk lebih serius menata gerakan dakwah di Minggir. (lihat di situs perpustakaan digital UIN Sunan Kalijaga)

Menurut data dari KUA Kecamatan Minggir per Januari 2007, dari 35.136 penduduk komposisi umat beragama di Minggir yakni, Islam sebanyak 26.082, Katholik 8.689, Kristen 769, Buda 4, dan Hindu 2. Sedangkan jumlah tempat ibadah yakni, Masjid 85, Musala 45, Langgar 14, Gereja 5, Kapel 1. Jumlah tersebut dapat dipastikan telah mengalami perubahan

Gerak Muhammadiyah di Kecamatan Minggir telah tumbuh menjadi ormas yang sangat berperan dalam dakwah Islam. Muhammadiyah telah memiliki lima ranting yang tersebar di setiap kalurahan. Lengkap dengan kepengurusan ortom (organisasi otonomnya) yakni, ‘Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiah.

Secara organisatoris Muhammadiyah Cabang Minggir resmi diakui pada tahun 1963 yakni dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 1686/A tertanggal 23 Dzulhijjah 1382 H atau bertepatan dengan 17 Mei 1963. Sejak saat itu Muhammadiyah tersu bergerak, utamanya dalam menjaga ketahanan aqidah umat Islam dari rongrongan paham komunis yang disebarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kondisi semacam itu ditanggapi secara serius oleh Muhammadiyah dan menjalin kerjasama dengan Masyumi.

Saat ini Muhammadiyah Cabang Minggir memiliki amal usaha berupa sekolah-sekolah dari TK hingga SMA/SMK dengan rincian: 10 TK ABA, 8 SD, 2 SMP dan 1 SMA/SMK. Serta satu amal usaha baru berupa Kolam Renang ‘Tirta Edukasia’.

Dari segi jumlah keanggotaan secara pasti tidak ada data yang bisa menjadi rujukan. Bila melihat jumlah pencari nomor baku Muhammadiyah (NBM) sampai tahun 2006 tercatat sebanyak 1.305 orang. Tetapi hal itu tidak bisa menjadi patokan karena banyak di antara mereka mencri NBM semata untuk persyaratan mencari kerja. Sebaliknya banyak dari aktivis Muhammadiyah yang enggan mencari NBM. Jumlahnya mungkin mencapai ribuan. Itu semua menjadi modal luar biasa untuk menggerakkan dakwah di Minggir.

Saatnya Menata Gerak Dakwah

Sudah saatnya gerak dakwah di Minggir lebih ditata lagi agar bisa mencapai hasil maksimal. Banyak faktor yang selama ini nampaknya banyak dilupakan oleh para aktivis dakwah sehingga gerakan dakwah yang ada, meskipun banyak dan intens tetapi pencapainnya kurang efektif. Saat ini berbagai lembaga/organisasi dakwah terus berupaya bergerak melakukan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar. Sebut saja misalnya, Muhammadiyah (‘Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiah), Nahdhatul ‘Ulama (Muslimat, Anshar, Fatayat), P2A, Badko TPA, Badan Kesejahteraan Masjid (BKM), Forum Kajian Sabilul Muhtadin (FKSM), Remaja Masjid, dan organisasi dakwah lainnya.

Realitas yang ada menunjukkan mereka cenderung bergerak sendiri-sendiri dan terpisah. Sehingga terkadang menimbulkan beberapa problem yang semestinya bisa diminimalisir. Seperti, penumpukan program kerja, pelaksanaan kegiatan yang bersamaan (tidak terkoordinasi), sampai dengan penggarapan obyek dakwah yang sama. Padahal jika ada pembagian tugas dan tanggung jawab, tentu hasilnya akan lebih baik dan bisa menghemat energi serta pendanaan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat gerak di Minggir lebih tertata:

Pertama, membuat peta dakwah. Tidak adanya peta dakwah yang jelas dan kurang pahamnya aktivis dakwah dengan medan perjuangan yang dihadapi tentu menimbulkan hambatan. Ibarat orang berjalan mereka tidak mengetahui seperti apa jalan yang akan dilalui. Sehingga sulit menentukan arah gerakan, skala prioritas, dan mempersiapkan ‘perbekalan’.

Perlu diketahui, menurut data 2006, Kecamatan Minggir memiliki luas 27.270 Ha, terbagi menjadi 5 kalurahan dan 68 dusun. Dengan jumlah tempat ibadah, Sendangagung (20 Masjid, 10 Musala, 2 Langgar, dan 3 Gereja), Sendangarum (11 Masjid dan 1 Kapel), Sendangmulyo (19 Masjid, 10 Musala, 9 Langgar, dan 1 Gereja), Sendangrejo (19 Masjid dan 17 Musala), dan Sendangsari (16 Masjid, 9 Musala, 3 Langgar dan 1 Gereja). (dok. 2007)

Kedua, Menentukan tujuan dakwah yang jelas. Menentukan tujuan sangat penting agar dakwah yang dilakukan tidak sekedar ‘wathon mlaku’ tanpa adanya target yang ingin dicapai. Padahal gerak dakwah amatlah luas dan rasanya sulit jika semuanya harus dicapai dalam sekali tempo. Perlu dibuat tujuan yang jelas agar memudahkan dalam membuat tahapan dakwah dan evaluasi untuk mengukur proses dakwah yang dilakukan berhasil atau belum.

Ketiga, Mencari sumber dana yang kontinyu. Salah satu pilar penopang kegiatan dakwah adalah tersedianya dana yang cukup. Untuk itu perlu digagas adanya sumber dana yang dapat diandalkan secara rutin guna membiayai kegiatan dakwah. Potensi yang ada sebetulnya cukup luar biasa. Dengan jumlah umat Islam lebih dari 26 ribu, misal saja setiap orang diharuskan membayar infak Rp 1000, setiap bulan maka dana yang terkumpul akan mencapai 26 juta!

Dalam hal ini Badan ‘Amil Zakat (BAZ) tingkat kecamatan yang telah lama terbentuk semestinya bisa berperan aktif berusaha mengupayakan agar umat Islam memiliki kesadaran untuk berzakat, infak dan shadaqah demi mendukung gerakan dakwah di Kecamatan Minggir.

“Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya. dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat), dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.” (Ash Shaafaat [37] : 1-4)

Sebagai penutup, marilah kita berupaya mengefektifkan gerak dakwah di Kecamatan Minggir. Gerak dakwah yang bukan sekedar gerak. Namun gerak yang tertata. Karena seperti nasihat khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, kemunkaran yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak tertata.

Wallahu a’lam bi shawwab

Sumber: http://buletin-alfajr.blogspot.com